Home / Keresidenan Banyumas / Lanjutan Api Di Bukit Menoreh - 05
AddthisAddthis

Lanjutan Api di Bukit Menoreh oleh Flam ZahraLanjutan Api di Bukit Menoreh oleh Flam Zahra

 

“Aku pernah mendengar serba sedikit dari guruku dulu, tentang apa yang sekarang tertimbun dalam dirimu,” kata Ki Patih Mandaraka. “Walau tentunya itu hanya sedikit saja yang kuketahui…”.

 “Ki Rangga,” berkata Ki Patih kemudian, “Aku sudah sangat tua, mungkin sudah pantas disebut pikun dan sebenarnya aku sudah layak untuk diganti oleh yang lebih muda”.

 “Tetapi Ki Patih masih sangat diperlukan oleh Mataram, dan sebelumnya hamba minta maaf Ki Patih, Ki Patih adalah yang selama ini hamba anggap sebagai orang tua hamba ... Hamba masih sangat memerlukan wejangan-wejangan dalam melaksanakan tugas-tugas hamba”.

 “Ohh, Agung Sedayu, suatu kehormatan besar bagiku. Aku melihat kamu, seperti melihat air yang seakan-akan mengalir tanpa riak sama sekali”.

 Sejenak kemudian Narpacundaka masuk menghadap.

 “Ada apa?” tanya Ki Patih

 “Glagah Putih bersama istrinya mohon menghadap Ki Patih?”

 “Kebetulan sekali, suruh mereka masuk!” jawab Ki Patih.

 Sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan datang menghadap. Ketika mereka masuk ke ruangan, mereka terkejut, Agung Sedayu juga menghadap.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, kemudian Ki Patih berkata, “Kebetulan sekali Ki Rangga, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah pulang”.

 

 “Ki Patih , dari kesimpulan kami ternyata Panaraga secara terang-terangan telah mempersiapkan pasukan yang sangat besar dan kuat serta di dukung oleh perguruan-perguruan. Tapi satu hal yang menjadi tanda tanya kami, ketika kami secara tidak sengaja mendengar dari pengawal Pangeran Ranapati, yang mengatakan kekuatan Panaraga adalah kekuatan yang tanpa batas. Bukan karena kehadiran Ki Singa Wana sepuh, tapi karena dukungan dari Perguruan Semu, dan hamba belum mampu membuka tabir tentang Perguruan Semu  ... Demikian Ki Patih, hasil dari pengamatan hamba dengan Rara Wulan”.

 “Perguruan Semu,” gumam Agung Sedayu, “Hamba belum pernah mendengarnya Ki Patih …”.

 Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk, sambil berkata, “Aku juga belum pernah mendengarnya. Tapi bisa saja hanya sekedar gertakan Panaraga, tapi juga bisa perguruan yang memang hanya sekedar nama, tanpa ada tempatnya. Apakah kamu sudah pernah melihat sepak terjang Ki Singa Wana Sepuh Glagah Putih, Rara Wulan?” bertanya Ki Patih.

 

“Hamba belum pernah bertemu Ki Patih, tetapi hamba sudah pernah berhadapan dengan Pangeran Ranapati, ternyata sangat tinggi ilmunya Ki Patih,” jawab Glagah Putih. “Dan kesimpulanku, jika Perguruan Semu itu ada, pastinya berisi orang-orang linuwih dengan ilmu yg seakan-akan tanpa batas. Bahkan Singa Wana Sepuh bukan tandingan mereka”.

 9

Akhirnya Glagah Putih dan Rara Wulan melaporkan hasil dari tugas mereka sebagai prajurit telik sandi Mataram. Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu mendengarkan dengan serius, bahkan kadang-kadang dahi mereka berkerut. Pangeran Jayaraga dan Pangeran Ranapati juga dengan gurunya Ki Singa Wana Sepuh telah dengan terang-terangan menyusun kekuatan yang besar. Mereka juga didukung oleh perguruan-perguruan besar. Dan menurut kabar, mereka tidak akan bertahan di dalam kota, tetapi akan membawa pasukannya keluar.

“Hamba belum paham, keluar itu sekedar di sekitar Panaraga atau keluar menuju ke Mataram. Ki Patih, ada satu hal yang perlu kami tambahkan, di Panaraga dalam sepekan terakhir ini tersiar kabar bahwa Panaraga akan dilindungi oleh Perguruan Semu, tetapi kami belum bisa memastikan kepastian kabar tersebut nyata atau hanya berita bohong semata”.

 “Perguruan Semu,” gumam Agung Sedayu. “Perguruan apa itu Ki Patih,” tanya Agung Sedayu.

 “Aku belum pernah mendengarnya,” jawab Ki Patih. “Walaupun semisal itu hanya berita bohong, tapi ada baiknya kita tetap menganggap itu adalah nyata ada,” lanjut Ki Patih Mandaraka. "Dan tentunya Perguruan Semu tadi berisi orang-orang anyg ilmunya seakan-akan tanpa batas, karena menurut mereka sanggup sebagai pelindung Panaraga”.

 “Apakah mungkin Panaraga hanya dijadikan landasan saja, Ki Patih?” tanya Agung Sedayu.

 “Sangat mungkin, dan aku kira apa yang kau kerjakan terakhir ini ada hubungannya dengan Perguruan Semu”.

 “Aku semakin yakin Ki Rangga, kau memang telah dipersiapkan oleh guru-gurumu untuk menghadapi keadaan ini. Dulu sewaktu Sultan Hadiwijaya masih hidup, pernah membicarakan tentang ilmu-ilmu tingkat tinggi yang telah di anggap punah. Tetapi di masa tuaku, aku pernah melihat sebagian ilmu itu muncul kembali, ketika Kiai Gringsing terpaksa mengeluarkannya untuk menolong aku. Glagah Putih dan kau Rara Wulan, sebaiknya kalian istirahat dulu, segala keperluan akan disiapkan Abdi Kepatihan. Aku akan mengajak kakangmu sowan ke istana”.

 

10

Sementara itu, jauh di belahan bumi Timur sekitar Pantai Selatan, Pantai Grajagan, pantai yang tidak pernah lengang karena tiap detik hantaman ombak raksasa yang menghantam dinding-dinding batu karang. Tampak empat orang berjalan menuju padukuhan yang terletak di sebelah Utara Pantai Grajagan. Empat orang yang sudah sepuh itu akhirnya berhenti di sebuah rumah yang kecil, yang dikelilingi pohon buah dan sayur-sayuran di sekitar rumahnya.

Akhirnya ke empatnya masuki pekarangan, tapi sebelum mereka mengucapkan salam di tiap-tiap telinga mereka seperti ada bisikan “Silahkan kakang bertiga dan Ki Kebo Langitan masuk ke dalam”.

 Sebenarnyalah kemudian mereka telah berbincang-bincang dengan sangat serius.

 “Aku adalah keturunan langsung dari Ken Arok, itu saja yang perlu kalian ingat-ingat. Apakah sudah paham kau adi Gajah Lawe, adi Putut Sungsang, adi Trunajati dan Raden Kebo Langitan?”

 “Sudah kakang,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Biarlah Jayaraga atau Ranapati bermimpi dulu untuk mengganti kekuasaan Hanyakrawati. Aku tidak akan menurunkan prajurit, biarlah Panaraga dibantu Bang Wetan ditambah kelompok perguruan yang jadi tumbal. Mungkin salah satu dari kita cukup untuk melumatkan orang-orang Mataram yang di anggap punya ilmu sangat tinggi. Aku juga tidak akan meniru Panji yang telah mengorbankan pasukannya ikut dalam perang Pajang Mataram. Selain itu Panji merasa sudah punya ilmu yang tidak terkalahkan, tetapi ketika harus berhadapan dengan Raden Timur, Panji pun harus meregang nyawa. Gajah Lawe, Putut Sungsang, Trunajati, serta Raden Kebo Langitan, kalian punya sebangsal ilmu dan kalian lebih punya segalanya di banding Panji Aku akan ke Alas Purwa dalam sepekan ini, aku minta kalian tetap disini”.

 

11

Sementara itu, Ki Patih Mandaraka bersama Agung Sedayu menghadap Panembahan Hanyakrawati..

 “Ternyata Mataram tidak bisa menghindari perang, aku telah meminta paman Jayaraga untuk datang ke Mataram sesuai kewajibannya. Tetapi paman Jayaraga ternyata telah menentukan sikapnya. Aku hargai sikap itu dengan sikap Mataram yang tegas pula”.

 Ki Mandaraka dan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepala dengan terus mendengar titah Panembahan Hanyakrawati.

 “Eyang Mandaraka,” berkata Panembahan Hanyakrawati. “Apakah Perguruan Semu memang dihuni orang-orang yang sakti berilmu sumundul langit, eyang? Dan untuk berulang kali Mataram harus memeras tugas Ki Rangga Agung Sedayu melebihi tugas-tugas keprajuritannya”.

 “Angger Panembahan”, berkata Ki Patih Mandaraka. “Aku belum pasti tentang Perguruan Semu, tetapi aku yakin akan hal itu. Tentang Agung Sedayu, angger Panembahan”, lanjut Ki Patih, “Ia adalah sahabat dekat ramamu, ngger. Ia bersama gurunya dapat disebut cikal bakal dari Mataram, yang telah menentukan sikap walau waktu itu Mataram masih ujud hutan lebat”.

 

Panembahan Hanyakrawati mengangguk-anggukkan kepala.

 “Tidak selamanya ilmu-ilmu dari seorang pemimpin itu harus lebih tinggi”, berkata Panembahan Hanyakrawati. “Ki Rangga, kamu adalah benteng Mataram. Baik dulu ketika rama Panembahan masih ada, maupun sekarang. Jadilah pelindung Mataram Agung Sedayu, kita telah meyakini Mataram dengan tujuannya maka kita akan terus sampai kapanpun menjadikan ketentraman Mataram gemah ripah loh jinawi”.

 “Eyang Mandaraka, ki Rangga,” lanjut Panembahan Hanyakrawati. “Mari kita berangkat, kita siapkan Mataram menjalani kewajibannya”.

 

12

Maka hari itu juga Agung Sedayu, Glagah Putih, Rara Wulan pulang  ke Tanah Perdikan.

 “Kita akan kembali menjalani kerja yang sangat berat, mengorbankan raga dan perasaan kita. Itulah perang”.

 “Benar kakang,” jawab Glagah Putih. “Kita kalau mungkin selamat, akan kembali merasakan suasana yang membuat perasaan kita hancur,” lanjut Glagah Putih.

Tiba-tiba Agung Sedayu, mengangkat kepalanya menatap jauh ke depan. “Rara, Glagah Putih hati-hati! Aku melihat ketidak wajaran”.

 “Trapkan sapta pandulu dan sapta panggraita”, lanjut Agung Sedayu.

 Rara Wulan dan Glagah Putih, terkejut setelah mereka mempertajam sapta pandulu. “Kakang apa kita tidak sedang bermimpi?”  Bertanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir bersamaan.

 “Aku melihat, walau masih samar-samar. Ada orang yang seperti mengambang di udara, kadang-kadang hilang tetapi segera muncul kembali di lain tempat”.

 “Kita bertemu dengan orang yang berilmu sangat tinggi. Semoga tidak bermaksud tidak baik. Kita tetap berkuda seolah-olah kita belum mengetahuinya,” lanjut Agung Sedayu.

 Demikianlah, mereka tetap terus meneruskan perjalanan.

 “Kita hampir sampai ke tempat orang itu kakang,” bisik Rara Wulan.

 

Tiba-tiba ketika mereka sudah hampir sampai ke tempat orang itu, mereka mendengar suara tertawa yang melengking-lengking sangat tinggi.

 “Gelap ngampar, perkuat daya tahanmu Glagah, Rara!”

 Demikianlah suara tertawa itu semakin lama tambah melengking tinggi. Glagah Putih dan Rara Wulan walau sudah memperkuat daya tahan tubuh mereka, tetapi ternyata suara tertawa itu mampu menembus jantung mereka walau tidak begitu berpengaruh.

 “Gelap ngampar tataran tinggi,” berkata Agung Sedayu dalam hati.

 Tiba-tiba di sela tertawanya, orang itu berkata, tapi tetap dengan suara yang melengking-lengking menusuk-nusuk jantung.

 “Aku akan berbicara dengan murid Raden Timur Pamungkas, Agung Sedayu!”

 Tiba-tiba di sela-sela suara keras melengking-lengking itu, ada samar-samar suara yang tidak keras bahkan cenderung pelan saja. Tapi suara pelan itu seolah olah mampu meredam suara tinggi tsb.

 Orang itu terhenyak, ketika seolah-olah suaranya membentur suara yang pelan-pelan dan perlahan-lahan mampu membalikkan ke sumber suara itu.

“Jangan sombong kau Agung Sedayu, ternyata Gelap ngamparmu sudah dalam tataran puncak,” berkata orang itu.

 “Sudahlah ki sanak, kita hentikan permainan kanak-kanak ini”, jawab Agung Sedayu.

 “Baiklah, tapi jangan kau berbangga dengan kemenangan kecilmu itu”.

 Kemudian Agung Sedayu meloncat turun dari kudanya, diikuti Glagah Putih dan Sekar Mirah.

 Demikianlah akhirnya mereka berdiri berhadapan, tepat di depan jalan yang akan masuk ke sebuah padukuan.

 

13

“Aku tidak perlu mencari tempat yang sepi, yang jauh dari padukuhan untuk menemui kalian,” berkata orang itu. “ Aku juga tidak mengkhawatirkan jika harus bertemu para prajurit Mataram.

 “Siapakah ki sanak ini yang menurut penglihatanku memiliki ilmu yang tiada tara ini?” bertanya Agung Sedayu.

 

“Dengarkan baik-baik Agung Sedayu, kamu tidak perlu mengenalku. Tugasku adalah membunuhmu. Dan kamu tidak perlu bertanya alasanku. Sudah siapkah kau Agung Sedayu?!” jawab orang itu.

 Ketika Agung Sedayu akan menjawab, tiba-tiba udara di sekitar menjadi panas. Agung Sedayu terhenyak , berkata dalam hati, “Orang ini tidak main-main”.

“Hai kisanak, aku akan membela diri karena kau telah menyerang aku dengan ilmumu yang ngedab-ngedabi itu."

 Glagah Putih dan Rara Wulan mundur agak menjauh, mereka mengerti orang itu hanya ingin menghadapi Agung Sedayu.

 Dari pinggir arena, Glagah Putih dan Rara Wulan melihat Agung Sedayu tidak menjauhi sumber dari panas tetapi Agung Sedayu seakan-akan menantang dengan mendekat ke arah sumber panas itu.

 

14.

Ketika Agung Sedayu berdiri tegak, tiba-tiba dari tubuh Agung Sedayu keluar seperti kabut tipis, kabut tipis itu lama kelamaan menyebar memenuhi tempat pertempuran itu.

 Orang asing itu tiba-tiba meloncat mundur, sambil berteriak, “Aku akan membunuhmu Agung Sedayu!”

 Bersamaan dengan hilangnya udara panas, orang asing itu dengan gerak yang seakan-akan kasat mata menyerang Agung Sedayu. Tangannya yang seperti mematuk mengarah langsung ke sentuhan wadag Agung Sedayu, tetapi Agung Sedayu juga dengan gerak yang sangat cepat mampu menghindar dan membalas serangan orang asing itu.

 Demikianlah pertempuran dua orang digdaya semakin lama semakin dahsyat. Sebenarnyalah pertempuran itu langsung dalam tataran tingkat tinggi. Tata gerak mereka sangat cepat dan rumit, seakan-akan hanya kelebatan bayangan yang saling menyambar.

 “Tameng Waja,” berkata Agung Sedayu dalam hati, ketika pukulan telapak luar tangan Agung Sedayu seperti membentur dinding tebal ketika mampu mengenai lambung orang asing itu.

 Maka Agung Sedayu segera mengetrapkan ilmu kebalnya.

 Sebenarnyalah Agung Sedayu sengaja hanya mengetrapkan tata gerak perguruan orang bercambuk.

 

Glagah Putih dan Rara Wulan yang menyaksikan pertempuran dengan berdebar-debar. Tetapi mereka juga menyadari , Agung Sedayu sengaja melayani tataran-tataran ilmu orang asing itu. Setiap orang asing itu meningkatkan ilmunya, maka Agung Sedayu masih saja mampu mengimbang ilmu orang asing itu.

Tiba-tiba kesepuluh jari orang asing itu berubah menjadi hitam, juga tata geraknya yang semakin cepat.

Agung Sedayu yang masih saja melayani segera paham bahwa orang itu sudah merambah dalam puncak ilmunya, sehingga Agung Sedayu juga melakukannya pula. Memperkuat ilmu kebalnya dan mengetrapkan ilmu meringankan tubuh. Sehingga pertempuran itu menjadi semakin dahsyat, kecepatan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi bagaikan sekelebatan bayangan yang bagai disertai suara guntur. Ketika harus terjadi benturan tampak gelombang yang besar yang meluruhkan dahan.

 

15

Benturan-benturan antara keduanya semakin sering terjadi. Tetapi nyatalah, tenaga dalam Agung Sedayu masih beberapa lapis di atas orang asing itu. Tiap terjadi benturan, ternyata tirai Tameng Waja orang asing itu dapat tertembus dari ilmu perguruan orang bercambuk Agung Sedayu. Sehingga orang asing itu selalu terdorong mundur tiap kali benturan terjadi. Walau tirai ilmu kebal Agung Sedayu juga dapat tertembus, tetapi dengan bekal daya tahan tubuh yang luar biasa maka tidak begitu pengaruh pada Agung Sedayu.

Tiba-tiba orang asing itu meloncat mundur, sesaat kemudian orang asing itu telah membuat gerakan khusus. Agung Sedayu segera menyadari bahwa orang asing itu telah siap untuk melontarkan ilmu pamungkasnya..

 “Aku akan mencoba membuat orang itu menyerah,” berkata Agung Sedayu dalam hati.

Sebenarnyalah orang asing itu telah menarik kedua sikunya kebelakang, dengan telapak tangan telungkup.

 Dan sesaat kemudian aji pamungkas orang asing telah siap dilontarkan, dari tangan orang asing itu telah menjadi merah membawa.

 “Kau akan hangus dengan aji Tatu Geni ku Agung Sedayu!” teriak orang asing itu. Dan sesaat akan di lepaskan aji Tatu Geni, tiba-tiba orang asing itu bergetar tubuhnya.

“Bau apa ini kakang?”  bertanya Rara Wulan .

 “Aku tidak tahu , Rara”.

 

“Rara, kita menjauhi medan sakarang! Bau itu seperti bau kembang yang menusuk-nusuk jantungku”.

Sesaat kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan menjauhi arena pertempuran itu.

Sebenarnyalah ketika orang asing itu akan melontarkan aji Tatu Geni, tiba-tiba di sekitar tempat itu telah menyebar bau kembang yang mampu menusuk-nusuk jantung. Menghilankan kekuatan nalarbudi. Orang asing itu merasa semakin lama seakan-akan bau itu semakin menyengat dan semakin membuat tubuhnya bergetar, dan perasaannya tidak mampu di kendalikan. Semakin lama semakin tubuh orang asing itu menjadi limbung.

Telapak tangan yang tadinya menjadi merah membara yang seakan-akan mampu menghanguskan segalanya, telah lenyap sama sekali.

Bahkan tiba-tiba tangan orang asing itu terkulai lemas, bersamaan dengan semakin limbung tubuhnya  maka orang asing itu terbungkuk-bungkuk hingga akhirnya tubuh orang asing itu roboh jatuh ke tanah.

 “Apakah kau menyerah atau akan mati lemas, kisanak?” bertanya Agung Sedayu.

 Orang asing itu memandang Agung Sedayu dengan mata sayu, mulutnya bergerak-gerak tetapi tak keluar suara apapun.

 Agung Sedayu segera tahu maksud dari orang asing itu, maka sejenak kemudian sengatan bau kembang yang mampu menyerang penciuman orang dan mempengaruhi keseimbangan nalar budi itu perlahan-lahan mulai berkurang

Semakin lama bau kembang itu semakin lemah hingga akhirnya bau kembang itu hilang sama sekali.

 

16

Glagah Putih dan Rara Wulan kemudian mendekati tempat Agung Sedayu berdiri.

“Bagaimana keadaan kakang?”

 “Aku baik-baik saja Glagah Putih,Yang Maha Agung masih melindungiku.”

“Marilah kita lihat keadaan orang itu,” lanjut Agung Sedayu.

Maka mereka bertiga kemudian mendekati orang asing itu.

 

“Kamu akan lekas baik, ki sanak!” kata Agung Sedayu. “Kamu tinggal mengatur jalan pernafasanmu, kemudian pusatkan nalar budi untuk mengembalikan semua seperti sediakala”.

 “Kamu luar biasa Agung Sedayu. Dan aku yakin yang kamu perlihatkan hanya sebagian kecil dari timbunan ilmu-ilmumu Agung Sedayu,” lanjut orang asing itu.

 “Kamu menguasai ilmu yang juga dipunyai guruku. Aji Kembang Tanjung yang diyakini adalah ilmu yang dipunyai dari trah keluarga Majapahit”.

 “Baiklah kisanak, kedaanmu sudah membaik. Hanya pernafasanmu yg belum teratur,” berkata Agung Sedayu. “Apakah kisanak mau melanjutkan perjalanan atau mau singgah di Tanah Perdikan untuk istirahat, mungkin kita bisa membicarakan tentang kerajaan Majapahit yang termasyur itu”.

 “Kalau kisanak mau meneruskan perjalanan, bolehkah kisanak berkenan memberitahukan nama kisanak”.

Orang asing itu memandang Agung Sedayu, kemudian menundukkan kepalanya.

Agung Sedayu membiarkan orang asing itu berpikir untuk membuat pertimbangan.

Setelah agak lama menunggu, maka terdengar suara lirih orang asing itu.

“Agung Sedayu, kau benar-benar mewarisi ilmu dan jiwa Pergururan Windujati, walau mungkin kau hanya dari jalur Perguruan Orang Bercambuk. Tetapi Perguruan Orang Bercambuk adalah langsung diasuh oleh Raden Timur Pamungkas, cucu Empu Windujati sendiri”.

 “Agung Sedayu, namaku Sentanu Alit dan aku mau kau bawa ke Tanah Perdikan Menoreh. Suatu kebanggaan bagiku, di masa tuaku aku bisa menjadi tawanan kehormatan dari agul aguling senopati Mataram yang ilmunya tiada batas”.

“Ah, kisanak terlalu berlebihan. Dan perlu Ki Sentanu Alit ketahui, Ki Sentanu bukan tawanan tapi tamu saya”,  jawab Agung Sedayu.

 

17.

Sebenarnyalah mereka berempat meneruskan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh.

Karena Ki Sentanu Alit tidak berkuda, maka kuda Rara Wulan dipakai Ki Sentanu Alit, Rara Wulan sendiri berkuda berdua dengan Glagah Putih.

Sebenarnyalah mereka segera melanjutkan perjalanan menuju ke Tanah Perdikan Menoreh.

 

Kuda-kuda mereka berpacu tidak terlalu cepat, seakan-akan mereka sedang menikmati matahari sore hari. Mereka terus berkuda sambil melihat pategalan-pategalan yang ditanami jagung dan palawija yang tumbuh subur.

Tambakbaya yang dulu terkenal lebat dan dipercaya wingit, kini telah dibuka untuk dijadikan padukuhan-padukuhan baru. Juga dibuat saluran-saluran air dari perbukitan di sisi Selatan yang mata airnya tidak penah kering. Dari saluran air itulah yang bisa di gunakan untuk mengairi petegalan yang terletak dipinggiran padukuhan, juga untuk mengairi persawahan di dalam pedukuhan.

 “Ternyata Mataram sudah sangat pesat perkembangannya “, gumam Ki Sentanu Alit. “Ki Pamanahan serta Panembahan Senopati juga Ki Patih Mandaraka telah berhasil memimpin pembangunan kerajaan baru yang bernama Mataram ini”.

 Agung Sedayu yang mendengar Ki Sentanu Alit yang seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri, hanya mengangguk-angguk kepala saja. Agung Sedayu membiarkan Ki Sentanu Alit melihat kenyataan yang sebenarnya, keadaan nyata dari kehidupan rakyat Mataram.

 Agung Sedayu membiarlah Ki Sentanu Alit mau meresapi keadaan dan mungkin bisa membuat perbandingan dengan apa yang selama ini ia yakini tentang keadaan Mataram yang tidak pernah tentram, yang penduduknya selalu gelisah kerena ketidak-amanan. Sehingga setelah melihat keadaan Mataram dan kehidupan masyarakatnya, maka akan bisa menjadi jawaban yang sebenarnya.

Akhirnya setelah matahari semakin condong ke Barat, mereka sampai ke tepian Kali Praga.

Setelah menunggu sejenak, maka sampan dari arah Barat telah sampai di tepian Timur, akhirnya mereka segera naik sampan. Sebenarnyalah perjalanan mereka tidak menemui hambatan. Menjelang senja, akhirnya sampai ke rumah Agung Sedayu.

 

18

“Nyi Rangga …, Ki Rangga telah datang bersama kakang Glagah Putih dan nyi Ayu Rara Wulan”, teriak Sukra.

 Sebenarnyalah waktu itu Sekar Mirah yang sedang selesai memasak, segera bergegas keluar. Sebenarnyalah ketika Sekar Mirah melihat Rara Wulan segera berlari mendekati Rara Wulan, keduanya segera berpelukan erat. Air mata tak terasa mengalir dipipi keduanya.

 “Kamu terlalu lama pergi Rara, bahkan aku pernah minta kakangmu untuk mencari kamu dan Glagah Putih”.

 

“Aku juga sudah sangat rindu kepada mbokayu dan keluarga Menoreh, dan ternyata kami masih diberi keselamatan oleh Yang Maha Agung”.

 Akhirnya sambil mengusap air mata, Sekar Mirah mengajak Rara Wulan masuk ke ruang dalam. Agung Sedayu segera mempersilahkan Ki Sentanu Alit naik ke pendapa.

 Sementara itu Glagah Putih mendekati Sukra.

 “Tubuhmu tambah besar Sukra, bagaimana dengan pliridanmu?”

Sukra masih diam mematung, sambil memperhatikan Glagah Putih, seakan-akan belum pernah bertemu sama sekali. “Kau terlalu lama pergi?! Apa nanti sebentar di rumah, kau akan pergi lagi? Aku di rumah masih suka turun ke sungai, kadang-kadang dengan Ki Rangga. Aku juga sering di ajak ke bukit-bukit pada malam hari. Aku di beri pengertian tentang hidup lahir maupun batin. Aku mulai mengerti mengapa kau sering bepergian”.

 Glagah Putih diam dan terpana mendengar Sukra berbicara.

 “Apa kau telah diambil murid oleh kakang Agung Sedayu?”

“Ki Rangga tidak pernah mengatakan padaku, tapi bagiku Ki Rangga adalah lebih dari sekedar guru. Ki Rangga adalah panutanku, ayahku, kakangku ...”

 “Kamu beristirahlah, biar aku yang membawa kuda-kuda itu ke kandang”.

Tanpa menunggu jawaban Glagah Putih, Sukra segera mengambil tali kekang kuda-kuda tersebut, lalu dibawa ke kandang.

Glagah Putih berdiri termangu-mangu. Dalam hati berkata, “Aku yakin ilmu Sukra pasti maju pesat”.

 Ketika Glagah Putih akan naik ke pendapa, terdengar orang menyapanya.

“Kapan kau datang Glagah Putih?”

 Glagah Putih sudah hapal suara itu, maka Glagah Putih segera berbalik dan menghampiri orang yang menyapa tadi. “Guru!!”

Kemudian Glagah Putih meraih tangan orang yang ternyata gurunya, Ki Jayaraga. “Atas restu guru, aku masih dilindungi Yang Maha Agung”.

Sebenarnyalah mereka berempat akhirnya duduk di pendapa .

 

19.

Sebenarnyalah mereka berempat yang sedang duduk di pendapa, telah mulai memperkenalkan satu sama lain. Saling menanyakan keselamatan selama di perjalanan maupun yang di rumah.

 “Begitulah ceritanya Ki Jayaraga, hingga kakiku akhirnya menginjak Tanah Perdikan Menoreh. Aku yang dipercaya untuk menghilangkan nama Agung Sedayu. Aku telah deksura menganggap membunuh Ki Rangga tidak butuh waktu sepenginang. Aku tidak tahu seberapa dalam ilmu Ki Rangga, tapi ketika aku menghadapi Ki Rangga tampak tanpa harus berkeringat pun, aku telah takluk”.

 Tak lama kemudian, Sekar Mirah dan Rara Wulan keluar untuk menyediakan minuman dan makanan kecil..

 Demikianlah mereka berenam saling berbagi cerita, tentang berbagai hal.

“Terima kasih Ki Sentanu Alit berkenan singgah di Tanah Perdikan”, berkata Ki Jayaraga.

“Aku dahulu juga orang yang kleyang kabur kanginan tidak tentu rimba, tetapi pepesten telah mempertemukan aku dengan Kyai Gringsing atau Ki Sentanu menyebutnya dengan nama Raden Timur Pamungkas dengan murid-muridnya. Aku juga sama dengan Ki Sentanu Alit, dengan deksura tidak mengerti bahwa yang aku hadapi adalah Gunung Semeru. Tetapi pepesten itu telah memberi pelajaran bagiku tentang arti urip bebrayan agung”.

Ki Sentanu Alit mendengarkan cerita Ki Jayaraga sambil menundukkan kepala. “Maaf Ki Sentanu,” lanjut Ki Jayaraga, “Bukan maksudku untuk menggurui Ki Sentanu, tetapi memang demikianlah yang terjadi denganku. Aku di Tanah Perdikan ini seolah-olah merasa menjadi manusia, aku bisa mengerjakan sawah, bisa membuka air untuk mengairi parit-parit, juga kadang-kadang aku bisa ke hutan untuk mencari kayu bakar. Tapi kadang-kadang tenagaku yang serba terbatas ini juga dapat untuk membantu Tanah Perdikan yang sedang menghadapi masalah. Ketika ada orang atau sekelompok orang yang ingin melanggar paugeran urip bebrayan agung, tentunya kita bersama-sama harus melawannya”.

 (bersambung)

Comments   

 
0 #10 Jangkung Jaladri 2014-04-16 03:09
MUDAH MUDAHAN INSPIRASINYA CEPAT DITUANGKAN DALAM TULISAN DAN DI UPLOAD.
Quote
 
 
0 #9 boedhiansyah 2014-02-28 08:13
mangga dilanjutaken nganggit kelajenganipun ADBM, mugi pinaringan 'enlightment' kang - amin
Quote
 
 
0 #8 sukro 2014-01-07 13:36
Sudah tidak sabar saya mas...mana seri 6 nya?
Quote
 
 
0 #7 Tohpati 2013-11-12 07:55
Tak tunggu tenin lho mas Agus... Kangen karo Agung Sedayu
Quote
 
 
0 #6 joko r 2013-09-18 03:37
mas agus tak tunggu lanjutanya !
Quote
 
 
0 #5 cantrik windujati 2013-07-21 10:54
kpn edisi #06 dll terbit Ki, sdh ditunggu para cantrik ....
Quote
 
 
0 #4 ajji 2013-07-17 04:45
Lanjut Ki Agus Kuswanto....
Quote
 
 
0 #3 kangen agung sedayu 2013-06-21 07:53
;-) meskipun rohnya memang blm bs menandingi adbm sh mintardja (maaf), tapi cukup bagus.. ditunggu ya kelanjutannya..
Quote
 
 
0 #2 cantrik windujati 2013-05-31 11:23
sangat ditunggu lanjutannya oleh para adbm'ers Ki Agus Kuswanto ....
Quote
 
 
+1 #1 mana lnjutanya 2013-05-17 03:45
mbah shoheh
Quote
 

Add comment

Security code
Refresh