Home / Keresidenan Banyumas / Api di Bukit Menoreh - 02
AddthisAddthis

Lanjutan Api di Bukit Meoreh

oleh Nyi Flam Zahra

 

Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan sedang dalam perjalanan kembali ke Mataram. 

“Kita istirahat sebentar Rara”.

“Apa tidak sebaiknya kita bermalam saja kakang?”, sahut Rara Wulan kepada Glagah Putih. “Di depan ada hutan kecil”.

“Baiklah Rara,” jawab Glagah Putih.

Akhirnya kedua orang suami istri itu bermalam di hutan kecil.

“Sudah dua hari kita menempuh perjalanan Rara, dan kita harus selalu hati-hati , selain Singa Wana berilmu sangat tinggi ditemani juga oleh para sesepuh perguruan”.

”Benar kakang, apalagi Pangeran Jayaraga mendukung penuh sikap Singa Wana”.

Keduanya akhirnya terdiam dalam angan-angannya sendiri.

Tiba-tiba Rara Wulan bertanya, “Sudah berapa lama kita meninggalkan Tanah Perdikan kakang?“.

“Apakah kamu sudah rindu Rara pada mbokayumu Sekar Mirah? Aku rasa sudah sebelas purnama kita berada di Ponorogo,” jawab Glagah Putih.

“Apakah yang akan diperbuat oleh Mataram terhadap bukti-bukti yang telah berhasil kita kumpulkan kakang?”

“Aku tidak tahu Rara? Memang sejak Mataram berdiri banyak dipenuhi gejolak, tapi itu adalah suatu keadaan yang harus dijalani oleh sebuah kerajaan baru, dimanapun dan di masa kapanpun”.

“Darimana kakang mencuri kata-kata itu?”.

Sambil tersenyum Glagah Putih mencubit lengan Rara Wulan.

“Aduh kakang! Lepaskan kakang!”

Akhirnya Glagah Putih melepaskan cubitannya, sambil berkata, “Andai saja kita di penginapan mewah dan tidak sedang menjalankan tugas ...”

“Mau apa?”  sahut Rara Wulan sambil tersenyum.

Akhirnya malam itu mereka bermalam istirahat bergiliran.

Ketika semburat merah mulai nampak di langit Timur kedua suami istri itu melanjutkan perjalanan.

“Sebaiknya kita masuk kota mencari penginapan, dan kita alihkan tugas kita untuk menilai kekuatan Ponorogo di pihak Pangeran Jayaraga”.

“Aku setuju kakang, kita sudah tahu kekuatan Ranapati dengan perguruan-perguruan pendukungnya, sekarang kita kumpulkan semua kekuatan Pangeran Jayaraga secara lengkap”.

“Dan semua kita laporkan kepada Ki Patih Mandaraka, Wulan”, imbuh Glagah Putih.

 

Dalam pada itu Agung Sedayu sedang mempersiapkan diri untuk menjalani laku.

“Nanti malam aku akan menjalani laku khusus selama tujuh hara tujuh malam”, berkata Agung Sedayu.

“Iya kakang, semoga yang Maha Agung memberi kemudahan”.

“Aku akan salalu mendoakan Ki Rangga diberi kemudahan dalam menjalani laku”,  jawab Ki Jayaraga kemudian.

“Aku tadi di barak telah menyerahkan urusan keprajuritan kepada para wakilku.

Sebenarnyalah beberapa hari kemudian keadaan rumah Agung Sedayu menjadi sunyi, Sekar Mirah walau tetap mengerjakan urusan dapur, begitu juga Ki Jayaraga maupun Sukra. Seolah-olah kediaman mereka sebagai laku mereka untuk membantu meringankan beban Agung Sedayu, Sekar Mirah banyak berada di biliknya,walau pun sekedar duduk.

Comments   

 
0 #2 retno haryanti 2013-06-21 07:34
msh berharap pada akhirnya nanti agung sedayu dikaruniai keturunan.... ikut sedih rasanya :cry:
Quote
 
 
0 #1 eko susanto 2013-03-20 06:07
apik kang...kangen karo agung sedayu...
Quote
 

Add comment

Security code
Refresh